Nasional

Bapanas Sebut Produksi Beras Indonesia Terbesar di ASEAN, Peringkat Keempat Dunia

Aktivitas bongkar muat dan penyimpanan beras di gudang Perum Bulog/Antara

Desanesia– Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengutip data Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan Indonesia menjadi produsen beras terbesar dengan produksi tertinggi di Asia Tenggara dan menempati peringkat keempat dunia di bawah India, Tiongkok dan Bangladesh pada 2025.

“FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh,” kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu, (20/6).

Amran menilai kinerja perberasan nasional menunjukkan tren yang semakin kuat. Dari empat negara produsen beras terbesar dunia, hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan produksi positif. Bahkan, Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan kenaikan produksi tertinggi dibandingkan musim sebelumnya, dengan tambahan lebih dari 4 juta ton beras.

Ia juga menyebut pengakuan dari FAO tidak hanya tercermin pada peningkatan produksi, tetapi juga bertambahnya stok beras nasional serta terjaganya harga di tingkat petani.

Saat ini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog masih berada di atas 5 juta ton, sehingga pemerintah optimistis kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi tanpa impor beras konsumsi.

“Stok (CBP) kita per hari ini bulan Juni, berada pada sekitar 5,2 juta ton sampai dengan hari ini dan stok kita aman. Tapi yang terpenting, (sejak) tahun 2025 tidak ada keluar izin impor beras medium (sampai sekarang),” kata Amran.

Amran meminta kepada pihak yang masih meragukan melimpahnya stok CBP agar melihat langsung ke gudang-gudang Bulog yang ada di berbagai daerah. Hal itu juga untuk membuktikan optimisme pemerintah yang besar terkait ketersediaan beras untuk kebutuhan dalam negeri.

“Kapasitas (gudang) Bulog hanya 3 juta ton. Tapi stok kita 5,2 juta ton. Artinya Bulog hari ini menyewa gudang (kapasitas) 2,2 juta ton. (Jadi untuk) yang belum yakin, silakan ke gudang Bulog seluruh Indonesia,” kata Amran.

Terkait stok beras, FAO memberikan proyeksi closing stocks dalam Food Outlook Juni 2026 yang memperkirakan stok beras Indonesia dapat mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan juga bisa lebih besar lagi hingga 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Peluang Indonesia sebagai eksportir beras dinilai semakin terbuka lebar.

“Dan satu lagi, beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah dua tahun berturut-turut,” kata Amran.

Amran mengatakan inflasi beras terus menunjukkan tren yang lebih stabil dalam dua tahun terakhir. Setelah sempat mencapai 3,59 persen pada Mei 2024, inflasi beras turun menjadi 1,35 persen pada Juli 2025 dan kembali melandai ke 0,38 persen pada Mei 2026.

Menurutnya, kondisi ini tidak membuat petani merugi karena harga di tingkat produsen tetap terjaga. FAO bahkan mencatat stabilnya harga gabah di Indonesia mendorong petani tetap memilih menanam padi.

Sejalan dengan itu, data BPS menunjukkan indeks harga yang diterima petani padi dan Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan pada Mei 2026 berada pada level tertinggi tahun ini. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *