Menuju Ketahanan Energi, Pemerintah Fokus Terapkan Biodiesel B50

Desanesia – Praktisi Komunikasi dan Kepemimpinan Digital, Drs. Sadjan, M.Si., menyampaikan bahwa pemerintah memprioritaskan implementasi biodiesel campuran lima puluh persen (B50) sebagai strategi utama menuju kemandirian energi nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam forum diskusi publik bertema “Ketahanan Energi: Kunci Kemandirian dan Daya Saing Bangsa” yang digelar oleh Ditjen Komunikasi dan Media pada, Rabu, (4/8).
Dalam paparannya, Sadjan menjelaskan bahwa B50 bukan hanya sekadar kebijakan, tetapi momentum transformasi pemerintah untuk mempercepat eksplorasi migas dan energi baru terbarukan.
Jika dulu pemerintah menambah campuran minyak sawit pada solar secara bertahap, kini lewat B50 pemerintah langsung mengambil lompatan yang jauh.
“Ini adalah langkah baru langkah terobosan pemerintah untuk tercapainya kemandirian atau ketahanan energi,” ujarnya.
Pemerintah memilih fokus pada B50 karena bisa menghemat uang negara dalam jumlah besar. Menurut Menteri Bahlil, Indonesia sebelumnya mengimpor 1 juta barel minyak per hari. Dengan B50, sekitar 300 ribu barel di antaranya bisa digantikan oleh minyak kelapa sawit buatan dalam negeri.
“Tiga ratus ribu barel dikonversi dengan B50 dari total konsumsi solar. Dan di sini devisa yang dihemat dari program biodiesel sepanjang 2015-2025 adalah tujuh ratus dua puluh dua koma sembilan triliun,” ungkapnya.
Sadjan menjelaskan bahwa pemerintah belum mengembangkan energi alternatif seperti etanol singkong, jarak, atau sampah plastik karena mempertimbangkan prioritas dan tahapan penerapan yang didasarkan pada kelayakan teknis serta hasil uji coba, bukan karena menolaknya.
“Untuk saat ini Pak Budi Setia pemerintah sedang fokus kepada B50 menggunakan campuran kelapa sawit dengan solar dan ini yang paling memungkinkan dan sudah dilakukan uji coba,” ujarnya.
Masalah tumpukan sampah di Indonesia masih belum terselesaikan secara optimal karena kemampuan pengelolaan sampah menjadi bahan bakar yang masih terbatas.
“Sampah kita itu kan sangat banyak sementara masih banyak masalah-masalah yang disebabkan oleh tumpukan sampah karena kita belum pandai mengelola sampah menjadi bahan bakar,” ujarnya.
Walaupun berbagai riset pengolahan sampah menjadi energi sudah pernah dilakukan, mekanisme serta efektivitas prosedurnya belum berjalan lancar. Oleh karena itu, penanganan sampah menjadi bahan bakar belum masuk dalam skala prioritas, dan pemerintah memilih untuk tetap berfokus pada penerapan program B50.
“Saat ini sudah pernah dilakukan penelitian-penelitian hanya mungkin efektivitas dari proses dan prosedurnya belum berjalan lancar dan belum menjadi skala prioritas sehingga sekarang ini pemerintah masih fokus kepada Biodiesel 50,” pungkasnya.








