Nasional

DPR Minta BMKG Maksimalkan OMC Antisipasi Karhutla Saat Kemarau Ekstrem

Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)/Net

Desanesia– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diminta memaksimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau ekstrem yang dipicu fenomena El Nino.

Permintaan tersebut disampaikan Kapoksi Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya, di Senayan, Jakarta, Kamis (20/8). Ia menilai kondisi kering yang berlangsung cukup panjang berpotensi meningkatkan kemunculan titik panas, terutama di kawasan hutan dan lahan gambut yang rentan terbakar.

“BMKG perlu memaksimalkan modifikasi cuaca sebagai langkah mitigasi menghadapi kemarau ekstrem. Jangan sampai kita menunggu karhutla meluas baru kemudian melakukan penanganan,” kata Danang.

Menurut Danang, OMC dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi. Namun, pelaksanaannya harus berdasarkan kajian meteorologis dan pemetaan wilayah yang membutuhkan intervensi.

Ia juga mendorong BMKG memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta aparat di lapangan. Informasi mengenai potensi kekeringan, cuaca ekstrem, dan wilayah rawan karhutla dinilai perlu disampaikan secara cepat agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.

“Yang paling penting adalah sinergi. Data dan informasi BMKG harus terhubung dengan langkah konkret pemerintah daerah dan instansi terkait. Kalau sudah terdeteksi wilayah yang rawan, mitigasinya harus segera dilakukan,” ujarnya.

Selain OMC, Danang meminta penguatan pemantauan titik panas atau hotspot serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran. Menurutnya, langkah pencegahan harus menjadi prioritas karena penanganan karhutla ketika api sudah meluas membutuhkan sumber daya yang lebih besar.

“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya bisa merembet ke kesehatan, transportasi, ekonomi masyarakat, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin,” katanya.

Danang berharap BMKG bersama seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat langkah antisipasi selama periode kemarau ekstrem. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat untuk menekan risiko karhutla di berbagai wilayah Indonesia.

“Jangan bekerja setelah terjadi bencana. Kita harus mengedepankan mitigasi, deteksi dini, dan respons cepat. Dengan begitu, risiko karhutla selama kemarau ekstrem dapat diminimalisir,” pungkasnya. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *