Opini

Bonus Demografi Indonesia Terancam oleh Krisis Moral Generasi Muda

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib/Muhammadiyah

DesanesiaGenerasi emas Indonesia sedang mengalami masalah moral yang serius. Orang tua dan sekolah terus mengajarkan nilai-nilai bagus kepada anak-anak. Tapi ketika mereka melihat kehidupan nyata di luar rumah dan sekolah, mereka malah melihat hal yang sangat berbeda. Ini adalah ancaman besar untuk cita-cita Indonesia Emas 2045, yang selama ini hanya diukur dari ekonomi dan teknologi saja.

Dilansir dari muhammadiyah.or.id, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia tidak akan berarti apa-apa jika tidak diikuti dengan karakter yang kuat. Masalahnya, apa yang terjadi sekarang menunjukkan krisis yang lebih mendalam: nilai-nilai yang diajarkan di rumah dan sekolah hancur ketika anak-anak melihat dunia nyata yang sangat berbeda.

Semuanya dimulai dari hal-hal kecil. Orang tua mengajarkan kejujuran dan berusaha memberi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Guru di sekolah mengajarkan kejujuran, kerja keras, dan sopan santun. Tapi semua usaha itu menghadapi masalah besar ketika anak-anak melihat dunia luar, terutama melalui televisi dan media sosial. Realitas yang mereka lihat sering kali bertolak belakang dengan nilai-nilai bagus yang diajarkan kepada mereka.

Irwan menunjukkan bagaimana kasus korupsi oleh pejabat pemerintah terus terjadi dan yang lebih buruk, sebagian pelaku malah tampil di hadapan umum tanpa merasa malu. Mereka pamer gaya hidup mewah yang didapat dari uang rakyat di media sosial, seolah-olah itu wajar saja.

“Di rumah dan di sekolah, anak-anak diajarkan nilai-nilai moral yang tinggi. Orang tua dan guru menjadikan dirinya sebagai teladan dengan menanamkan kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, dan kesederhanaan. Namun, benteng moral itu dapat runtuh ketika anak-anak menyaksikan realitas yang bertolak belakang di ruang publik,” ujarnya pada Kamis (23/7).

Ini bukan sekadar masalah pribadi saja. Ini adalah krisis besar yang mengancam masa depan Indonesia. Ketika nilai-nilai dari keluarga dan sekolah tidak cocok dengan contoh nyata yang dilihat anak-anak muda di masyarakat, maka semua pembelajaran tentang karakter itu tidak akan dipercaya.

Karena itu, Irwan menekankan bahwa tanggung jawab membentuk karakter generasi muda tidak bisa lagi hanya dibebani kepada keluarga dan sekolah.

Negara, para pemimpin, media, tokoh masyarakat, dan semua orang harus bekerja sama menciptakan dunia publik yang bersih, jujur, dan menjadi contoh yang baik.

Menurut Irwan, memberi contoh yang baik adalah cara paling efektif untuk mengajar. Anak-anak akan lebih gampang belajar dari apa yang mereka lihat orang lakukan, bukan hanya dari nasihat yang mereka dengarkan.

Kalau para pemimpin menunjukkan kejujuran, kalau tokoh masyarakat menghargai kesuksesan yang jujur, kalau media menunjukkan nilai-nilai bagus, maka generasi muda akan punya contoh nyata bukan hanya cerita di buku.

Irwan mengatakan bahwa kesuksesan sejati tidak bisa hanya diukur dari angka-angka pertumbuhan saja.

“Bila bonus demografi dibarengi dengan keteladanan moral, maka Indonesia akan memiliki generasi emas yang mampu membawa bangsa ini menjadi negara yang maju sekaligus bermartabat,” pungkasnya.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *