Nasional

620 Anak Terpapar Radikalisme: Media Sosial Jadi Saluran Ekstremisme Pada Anak-Anak Indonesia

Kepala BNPT, Eddy Hartono pada kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan/Komdigi

Desanesia – Sejak Januari hingga Agustus, sebanyak 620 anak-anak Indonesia masuk dalam kategori terpapar paham kekerasan dan radikalisme melalui ruang digital.

Menurut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, Sejak Januari hingga (26/8) terdapat 620 anak yang masuk dalam kategori terpapar paham kekerasan maupun radikalisme pada kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan, Rabu, (2/9).

Lebih dari 77 anak per bulan terjaring dalam paparan paham kekerasan dan radikalisme. Angka ini adalah indikator nyata bahwa ancaman ekstremisme tidak lagi hanya menargetkan orang dewasa, tetapi telah memasuki kalangan anak-anak dan remaja.

Salah satu temuan paling penting adalah bahwa paparan ekstremisme pada anak-anak terjadi terutama melalui ruang digital seperti media sosial, podcast, forum, dan platform lainnya.

Ini adalah realitas baru yang berbeda dari dekade sebelumnya ketika rekrutmen ekstremis terjadi melalui pertemuan tatap muka atau lingkungan pribadi. Saat ini, kelompok ekstremis telah beradaptasi dengan teknologi digital dan memanfaatkan platform online untuk menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk anak-anak.

Kepala BNPT juga menegaskan bahwa pencegahan memerlukan langkah bersama yang tidak hanya dilakukan di tingkat pusat, tetapi harus mencakup seluruh nusantara. Untuk itu, BNPT akan melakukan intervensi ke 38 provinsi.

“Hari ini kita hadir, kita sama-sama membuat komitmen. Nanti setelah komitmen deklarasi ini, kami akan melakukan intervensi ke 38 provinsi,” ujar Eddy.

Jangkauan ke 38 provinsi menunjukkan ambisi pemerintah untuk membuat pencegahan ekstremisme sebagai agenda nasional yang tersebar merata di seluruh Indonesia, bukan hanya terpusat di kota-kota besar.

Angka 620 anak yang terpapar radikalisme dalam delapan bulan pertama 2026 adalah kampanye alarm yang tidak dapat diabaikan. Paparan melalui ruang digital menunjukkan bahwa ancaman ekstremisme telah beradaptasi dengan cara yang sulit dideteksi melalui metode tradisional. Respons pemerintah dengan menguatkan peran sekolah dan merencanakan intervensi ke 38 provinsi menunjukkan kesadaran akan skala masalah ini. Namun, kesuksesan pencegahan tergantung pada kolaborasi yang kuat antara pendidik, orang tua, pemerintah, dan anak-anak sendiri. Setiap anak yang terselamatkan dari paparan radikalisme adalah masa depan Indonesia yang diselamatkan dari jebakan ekstremisme dan kekerasan.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *