Perluas Jangkauan BIPA, Badan Bahasa dan KBRI Tanzania Buka Kelas Bahasa Indonesia

Desanesia – Upaya memperkuat diplomasi Indonesia di Afrika Timur terus dilakukan melalui pengembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) memperkuat sinergi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tanzania agar Bahasa Indonesia semakin dikenal sekaligus menjadi jembatan kerja sama pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan sumber daya manusia di kawasan tersebut, Kamis, (30/7).
Komitmen itu mengemuka dalam audiensi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, didampingi Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Persatuan Tanzania, merangkap Republik Rwanda, Republik Burundi, dan East African Community (EAC), Tri Yogo Jatmiko.
Wamendikdasmen menilai pengajaran Bahasa Indonesia di Tanzania merupakan investasi jangka panjang yang akan memperkuat hubungan bilateral melalui pendidikan.
“Hubungan baik yang telah terjalin antara Indonesia dan Tanzania perlu terus diperkuat melalui pendidikan. Salah satu langkah strategisnya adalah memperluas pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga semakin banyak masyarakat Tanzania yang mengenal Indonesia, baik bahasa maupun budayanya,” ujar Atip.
Ia juga mendorong agar berbagai praktik baik penyelenggaraan program BIPA di berbagai negara menjadi rujukan dalam mengembangkan pembelajaran Bahasa Indonesia di Tanzania. Sejak 2018, pemerintah Indonesia juga telah memfasilitasi sembilan mahasiswa Tanzania mengikuti program Darmasiswa untuk mempelajari bahasa, seni, dan budaya Indonesia.
Duta Besar RI untuk Tanzania, Tri Yogo Jatmiko, menyampaikan bahwa minat masyarakat Tanzania melanjutkan studi ke Indonesia terus meningkat sehingga kebutuhan mempelajari Bahasa Indonesia pun semakin besar.
“Kelas Bahasa Indonesia yang akan dibuka menjadi jembatan penting bagi mahasiswa Tanzania yang ingin melanjutkan pendidikan ke Indonesia. Mereka mempersiapkan kemampuan berbahasa Indonesia agar lebih siap mengikuti proses pembelajaran ketika memperoleh beasiswa maupun melanjutkan studi di Indonesia,” ujar Tri Yogo.
Menurutnya, kelas BIPA di Muslim University of Morogoro (MUM) juga berpotensi menarik pemelajar dari negara-negara Afrika Timur lainnya.
“Bagi kami, kehadiran kelas Bahasa Indonesia seperti memberikan bahan bakar tambahan bagi diplomasi Indonesia di Tanzania. Bahasa menjadi media yang efektif untuk mempererat hubungan kedua negara sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas pada masa depan,” katanya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, KBRI turut mengidentifikasi alumni Tanzania lulusan Indonesia agar dapat menjadi pengajar BIPA lokal.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa penguatan BIPA merupakan bagian penting dari diplomasi kebudayaan Indonesia.
“Diplomasi bahasa merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan terus berkembang. Apa yang dilakukan KBRI menjadi contoh bagaimana bahasa dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperkuat kerja sama antarnegara,” ujar Hafidz.
Sebagai tindak lanjut, Badan Bahasa akan mendukung pengembangan BIPA melalui pengiriman pengajar, kelas daring, penguatan kapasitas dan sertifikasi pengajar lokal, serta penguatan nota kesepahaman dengan perguruan tinggi.
“Tahun 2026, Badan Bahasa akan memfasilitasi penugasan satu orang pengajar BIPA ke MUM. Penugasan pengajar BIPA ini merupakan inisiatif dari KBRI,” imbuhnya.
Melalui kolDentysi Kemendikdasmen, Badan Bahasa, dan KBRI RI di Tanzania, pengembangan BIPA diharapkan memperluas jangkauan Bahasa Indonesia di Afrika Timur sekaligus memperkokoh diplomasi pendidikan Indonesia melalui hubungan antarmasyarakat yang berkelanjutan.








