Gempa M7,7 NTT Tewaskan 47 Orang, Lima Bandara dan Ratusan Bangunan Terdampak

Desanesia– Di tengah suasana menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, duka menyelimuti masyarakat Indonesia setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8) dini hari.
Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8) pukul 14.30 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang. Korban tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang, dan Ende 1 orang.
Selain korban jiwa, gempa yang berpusat di Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, tersebut juga menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas. Sebanyak 157 rumah warga dan 87 fasilitas pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan, disertai kerusakan sejumlah fasilitas umum lainnya.
Dampak gempa juga dirasakan di sektor transportasi udara. Kementerian Perhubungan melaporkan lima bandar udara terdampak, yakni Bandara Komodo-Labuan Bajo, H. Hasan Aroeboesman-Ende, Umbu Mehang Kunda-Waingapu, Frans Sales Lega-Ruteng, dan Soa-Bajawa.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan kerusakan antara lain berupa retakan pada bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, serta sejumlah fasilitas pendukung.
“Seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di lokasi yang terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat,” kata Lukman dalam keterangan resmi, Minggu (16/8.)
Pada layanan navigasi penerbangan, sejumlah unit juga terdampak, di antaranya Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng. Meski demikian, pelayanan dan keselamatan personel menjadi perhatian utama dalam penanganan pascagempa.
Gempa terbaru ini kembali mengingatkan masyarakat pada sejarah panjang bencana seismik di NTT. Wilayah tersebut sebelumnya juga pernah mengalami sejumlah gempa besar, termasuk gempa Flores pada 12 Desember 1992 yang disertai tsunami dan menewaskan atau menyebabkan sekitar 2.500 orang meninggal maupun hilang.
Gempa besar juga terjadi di Kalabahi, Alor, pada 12 November 2004. Gempa berkekuatan 7,5 magnitudo tersebut tercatat menyebabkan 31 orang meninggal dunia, sekitar 400 orang luka-luka, serta merusak ratusan rumah dan bangunan.
Dengan kondisi terkini, penanganan darurat menjadi prioritas untuk memastikan kebutuhan korban terpenuhi, sekaligus mempercepat pendataan kerusakan dan pemulihan fasilitas yang terdampak. [nfa]









