Nasional

BGN Copot Pengelola Dapur MBG yang Diduga Terkait Keracunan di Bogor dan Cirebon

Ilustrasi MBG/Net

Desanesia– Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas terhadap pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan kasus keracunan massal di Bogor dan Cirebon, Jawa Barat. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait dicopot, sedangkan tenaga ahli gizi dan ahli keuangan diberhentikan.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, dugaan awal menunjukkan kasus tersebut berkaitan dengan penggunaan bahan makanan matang yang dibeli dari pihak lain. Praktik ini dinilai menyulitkan pengawasan terhadap kebersihan, proses pengolahan, dan keamanan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat.

“Terkait kasus kejadian menonjol di Bogor dan beberapa tempat sebelumnya, jujur saja, saya sedih dan menyesalkan adanya kejadian tersebut. Terkait kasus Bogor, kami sudah kirim tim dan saya sudah berkoordinasi dengan Bupati, Kapolres, dan Dandim di Bogor,” kata Sudaryono, dikutip dari ipol.id, Rabu (28/10).

Ia menjelaskan, dugaan awal di Cirebon berkaitan dengan pembelian telur puyuh yang telah direbus dan dikupas. Sementara itu, di Bogor, bahan yang menjadi sorotan adalah bumbu kacang untuk sate yang dibeli dalam kondisi siap pakai.

“Dugaan di Cirebon dan Bogor adalah dapur membeli bahan makanan barang jadi, bukan bahan mentah. Di Cirebon, mereka beli telur puyuh yang sudah matang dan terkelupas. Kita tidak bisa mengontrol kapan direbusnya, dikupasnya, kebersihannya, dan sebagainya. Di Bogor, diduga karena membeli bumbu kacang sate barang jadi. Kapan diuleknya dan kebersihannya tidak bisa dipastikan,” ujarnya.

BGN masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Tim investigasi telah diterjunkan dan memeriksa sejumlah bukti, termasuk rekaman kamera pengawas atau CCTV di dapur terkait.

Sebagai langkah awal, BGN menghentikan sementara operasional dapur selama proses investigasi berlangsung. Kepala SPPG terkait juga dicopot, sedangkan tenaga ahli gizi dan ahli keuangan diberhentikan.

Sudaryono menegaskan, BGN tidak akan menoleransi pelanggaran yang membahayakan kesehatan dan keselamatan penerima manfaat. Jika hasil pemeriksaan membuktikan adanya kelalaian yang disengaja, dapur yang bersangkutan dapat ditutup secara permanen.

“Ini sedang kami periksa. Terkait nyawa dan kesehatan, saya tidak main-main. Siapa pun pemilik dapurnya, selama membahayakan dan ada kelalaian yang disengaja, wajib hukumnya ditutup permanen,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemeriksaan dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program MBG tetap mengutamakan keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.

“Sekali lagi, saya tidak ingin main-main dengan urusan nyawa dan kesehatan. MBG ini Makanan Bergizi Gratis, jadi harus menyehatkan, bukan bikin orang sakit,” ujarnya.

Sebelumnya, dugaan keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat. Di Cirebon, sebanyak 426 orang dilaporkan mengalami keracunan dan harus mendapatkan perawatan medis.

Sementara itu, di Kabupaten Bogor, dua kejadian serupa dilaporkan terjadi dalam waktu berdekatan. Kasus di Kecamatan Cisarua menyebabkan 120 orang menjalani perawatan medis, sedangkan kejadian di Kecamatan Dramaga dilaporkan menimbulkan 481 korban.

Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari tim investigasi. [nfa]

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *