Vietjet dan Satair Perkuat Rantai Pasok Penerbangan untuk Dukung Ekspansi Armada

Desanesia– Maskapai asal Vietnam, Vietjet, menjalin kerja sama strategis dengan Satair, perusahaan bagian dari Airbus Services, untuk memperkuat rantai pasok penerbangan dan mendukung pengembangan armada. Kolaborasi tersebut diumumkan dalam Vietnam–Denmark Business Forum di Kopenhagen, Denmark, melalui pertukaran nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) Kamis, (22/10).
Penandatanganan kesepakatan itu disaksikan oleh Sekretaris Jenderal sekaligus Presiden Vietnam H.E. To Lam, Raja Denmark Frederik X, serta pejabat senior dari kedua negara. Dikutip dari Voi.id, kerja sama ini mencakup penjajakan layanan material, pengelolaan logistik, dan solusi perawatan pesawat sepanjang siklus hidupnya.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya Vietjet memperkuat kesiapan operasional seiring pertumbuhan armada dan perluasan jaringan penerbangan internasional. Ketersediaan suku cadang, dukungan teknis, serta pengelolaan inventaris menjadi faktor penting untuk menunjang kelancaran operasional maskapai.
Chief Executive Officer Satair, Richard Stoddart, mengatakan kesepakatan tersebut merupakan kelanjutan kemitraan kedua perusahaan melalui program Integrated Material Services (IMS) yang sebelumnya telah mendukung pertumbuhan armada Airbus Vietjet.
“Nota kesepahaman ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan kemitraan kami dengan Vietjet. Dengan memperkuat fondasi program Integrated Material Services yang telah berjalan, kami berharap dapat mendukung pertumbuhan armada Vietjet sekaligus berkolaborasi dalam mengembangkan solusi rantai pasok yang terukur, berkelanjutan, dan berbasis data untuk mendukung ambisi pertumbuhan jangka panjang Vietjet,” ungkap Richard.
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan juga akan menjajaki optimalisasi pengadaan, perencanaan kebutuhan suku cadang, penempatan inventaris, serta pemanfaatan komponen pesawat bekas yang masih layak digunakan atau Used Serviceable Material (USM). Selain itu, kerja sama mencakup layanan perbaikan dan pertukaran komponen untuk meningkatkan efisiensi biaya perawatan pesawat.
Aspek digitalisasi turut menjadi fokus kolaborasi. Vietjet dan Satair berencana mengeksplorasi pemanfaatan analisis data, integrasi informasi, serta perencanaan kebutuhan berbasis prediksi guna meningkatkan visibilitas ketersediaan material dan mendukung proses perawatan armada.
Kedua perusahaan juga akan menjajaki dukungan material dan logistik untuk pengembangan Bandara Internasional Long Thanh di Vietnam. Penguatan penanganan pesawat yang tidak dapat beroperasi atau Aircraft-on-Ground (AOG), logistik darurat, serta pelatihan tenaga profesional di bidang rantai pasok penerbangan turut masuk dalam agenda kerja sama.
Chief Executive Officer Vietjet, Nguyen Thanh Son, menyatakan kemitraan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan perawatan pesawat sekaligus memperkuat kemampuan teknis tenaga kerja lokal di Vietnam.
Vietjet saat ini melayani penerbangan langsung yang menghubungkan Jakarta dan Bali dengan Hanoi serta Ho Chi Minh City. Penguatan sistem rantai pasok dan perawatan pesawat diharapkan dapat menunjang pengembangan jaringan penerbangan maskapai, meskipun kesepakatan tersebut tidak secara langsung menjamin perubahan jadwal maupun layanan bagi penumpang.
Sebagai tindak lanjut, Vietjet dan Satair berencana membentuk Kelompok Kerja Bersama (Joint Working Group) untuk mengevaluasi peluang kolaborasi di bidang layanan material, logistik, digitalisasi, dukungan operasional, dan pengembangan sumber daya manusia. [nfa]









