Kampung Dolanan Sidowayah Jadi Ruang Edukasi Nilai Pancasila Sejak Dini

Desanesia– Kampung Dolanan Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dinilai dapat menjadi ruang alternatif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak sejak usia dini melalui permainan tradisional.
Plt Direktur Jaringan dan Pembudayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Prof. Dr. H. Agus Moh Najib, mengatakan permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga memiliki nilai luhur yang selaras dengan Pancasila.
Hal tersebut disampaikan Agus seusai peresmian Kampung Pancasila Satria sekaligus Kampung Dolanan di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Sabtu (22/8).
“Kami dari BPIP sangat menyambut baik adanya Kampung Dolanan Sidowayah. Dolanan tradisional banyak mengandung nilai-nilai Pancasila dan dapat menjadi media pembentukan karakter sejak dini,” kata Agus dikutip dari faktapers.id.
Menurut Agus, berbagai permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan congklak, misalnya, mengajarkan sikap hemat, menabung, dan berbagi. Sedangkan gobak sodor mengajarkan kebersamaan, musyawarah, serta semangat menjaga wilayah.
Ia menilai pembelajaran nilai-nilai Pancasila akan lebih efektif apabila disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa sedang menerima pembelajaran secara teoritis.
“Yang penting bagi kami adalah penanaman nilai Pancasila sejak dini dilakukan dengan cara yang ceria dan membahagiakan. Anak-anak belajar nilai kebersamaan, tetapi melalui permainan,” ujarnya.
Agus menambahkan, pembudayaan Pancasila tidak cukup hanya dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting, terlebih anak-anak saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin luas.
Karena itu, BPIP mendorong kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait agar permainan tradisional kembali mendapatkan ruang dalam pendidikan anak.
“BPIP tidak bisa berjalan sendiri. Kami berharap ada semacam kurikulum atau kewajiban untuk memperkenalkan dolanan tradisional di sekolah. Kami akan bekerja sama dengan pihak terkait, termasuk Kemendikdasmen dan Kementerian PPPA,” katanya.
Agus mengatakan BPIP bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga telah menyusun buku teks utama Pendidikan Pancasila untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA. Pembelajaran tersebut tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik dan keteladanan.
“Anak-anak tidak cukup hanya menghafal Pancasila, tetapi harus memahami dan mempraktikkan nilai-nilainya. Salah satunya melalui permainan tradisional,” kata Agus.
Dorong Pariwisata Berbasis Budaya
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Klaten, Puspo Enggar Hastuti, membacakan sambutan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.
Dalam sambutannya, Hamenang mengapresiasi keberadaan Kampung Dolanan Sidowayah yang dinilai dapat menjadi ruang bermain, belajar, sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, permainan tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dilestarikan di tengah perubahan pola bermain anak akibat perkembangan teknologi.
Kampung Dolanan Sidowayah diharapkan tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang untuk mengembangkan kreativitas, melatih kerja sama, menumbuhkan sportivitas, serta memperkuat karakter dan kecintaan anak terhadap budaya bangsa.
Pemerintah Kabupaten Klaten juga mendorong pengembangan Kampung Dolanan Sidowayah sebagai bagian dari ekosistem pariwisata berbasis potensi lokal.
Pengembangannya akan diintegrasikan dengan kawasan wisata yang melibatkan Desa Delanggu, Desa Kranggan, dan Desa Sidowayah.
“Potensi masing-masing desa tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus menjadi satu rangkaian pengalaman wisata yang menarik, edukatif, dan berkelanjutan,” kata Hamenang dalam sambutan yang dibacakan Puspo. [nfa]









