Opini

MUI Tanggap Fenomena Belajar Agama via AI: Siapkan Mujahid Digital dan Bank Prompt

Ilustrasi gambar/XIRA

Desanesia – Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menggelar Workshop “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu, (29/7).

Anak muda sekarang punya masalah serius, mereka makin sering meniru agama dari AI, avatar digital, bahkan algoritma sosial media. Bukan dari guru ngaji atau kitab-kitab ulama yang sudah teruji ratusan tahun.

Ketua MUI Bidang Infokomdigi, KH Masduki Baidlowi, menyampaikan Pernyataan ini menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan sebuah sarana yang efektif.

“AI ini adalah alat efektif; jika kita kuasai, kita bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara,” ujar Kiai Masduki dikutip dari mui.or.id.

Banyak anak muda yang cuma percaya algoritma berdasarkan apa yang enak untuk mereka pribadi, tanpa tanya ke guru atau buku rujukan asli. Ini menyebabkan apa yang disebut “ruang gema” (echo chamber), di mana orang-orang hanya lihat informasi yang sesuai dengan mereka. Maka tradisi belajar agama dari guru langsung mulai hilang.

Menurut ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, dari workshop ini mereka ingin melahirkan “Mujahid Digital” yang bisa menguasai teknologi. Peserta workshop bakal dapat langsung praktik menggunakan teknik prompt engineering dan Generative Engine Optimization (GEO) agar bisa membuat konten Islam di media sosial.

“Kami ingin peserta tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan membawa bank prompt AI, jadwal publikasi, serta materi yang siap rilis untuk mengamplifikasi pesan-pesan Islam yang moderat dan mencerahkan,” tegasnya.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *