Sambut Bulan Suro, Desa Krajan Resmikan Gamelan Baru Lewat Pagelaran Wayang Kulit

Desanesia– Peringatan Bulan Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah di Desa Krajan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, berlangsung meriah melalui gelaran Mapag Suro di Gedung Graha Agung Mulia, Senin (15/6) malam.
Kegiatan ini diisi pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Wisnu Nugroho dengan lakon Wisanggeni Krido sekaligus menjadi ajang pengukuhan tiga kelompok karawitan desa dan peluncuran perangkat gamelan baru.
Kepala Desa Krajan Tri Agung Rahmadi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen masyarakat untuk melestarikan seni dan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Berangkat dari semangat para pelaku seni dan sesepuh desa yang ingin budaya tetap lestari. Dengan adanya gamelan baru, masyarakat semakin antusias membentuk kelompok karawitan dan berlatih secara rutin,” ujarnya.
Tri Agung menjelaskan, Desa Krajan kini memiliki tiga kelompok karawitan yang terdiri atas dua kelompok bapak-bapak dan satu kelompok ibu-ibu. Ketiga kelompok tersebut resmi dikukuhkan dalam rangkaian acara Mapag Suro sebagai langkah awal memperkuat pelestarian seni karawitan di desa.
Menurutnya, keberadaan kelompok tersebut diharapkan dapat mendorong minat generasi muda untuk belajar dan mencintai budaya Jawa, sekaligus menjadi upaya regenerasi mengingat sebagian besar pelaku seni yang aktif saat ini masih didominasi kalangan senior.
“Kami berharap anak-anak muda ikut tergugah. Jangan sampai nanti ketika para sesepuh sudah tidak lagi aktif, kesenian tradisional ikut hilang. Padahal Desa Krajan memiliki sejarah panjang dalam dunia seni, mulai dari ketoprak, wayang orang hingga wayang kulit,” katanya.
Tri Agung menilai tampilnya Ki Wisnu Nugroho sebagai dalang muda asal Desa Krajan menjadi bukti bahwa regenerasi seni tradisional terus berlangsung. Sebagai penerus almarhum Ki Bagong Sabdo Carito, Ki Wisnu dinilai mampu melanjutkan tradisi pedalangan yang telah mengakar di masyarakat.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan Mapag Suro juga memberi peluang bagi pelaku UMKM untuk berjualan di sekitar lokasi acara sehingga turut menggerakkan perekonomian warga.
Sementara itu, anggota DPRD Klaten dari Partai Gerindra, Dwi Atmaja, mengatakan bantuan gamelan yang diberikan merupakan bentuk dukungan nyata untuk menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional sebagai warisan budaya daerah.
“Kesenian daerah adalah identitas bangsa. Jika tidak dirawat bersama, maka generasi mendatang akan kehilangan akar budayanya. Karena itu kami mendukung penuh kegiatan-kegiatan budaya seperti karawitan dan wayang kulit agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dwi berharap gamelan baru dan kelompok karawitan yang telah terbentuk dapat terus berkembang serta menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar dan mencintai budaya Jawa.
Menurutnya, kegiatan Mapag Suro membuktikan bahwa tradisi tetap memiliki peran penting dalam mempererat kebersamaan warga sekaligus menjaga kelestarian budaya agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. [nfa]








