Koperasi Pesantren Diajak Bimbing Kopdes Merah Putih Kembangkan Sektor Riil Desa

Desanesia – Keberadaan koperasi pesantren memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi syariah Indonesia. Koperasi pesantren dapat memainkan peran penting menjadi “kakak asuh” bagi Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih, yang menjadi program strategis nasional dalam upaya pemerataan ekonomi di desa.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Ferry Juliantono, menegaskan koperasi pesantren, yang kini telah berkembang pesat di berbagai provinsi, memiliki potensi besar untuk mendampingi dan membimbing koperasi desa dalam menjalankan kegiatan ekonomi produktif.
“Kami ingin koperasi pesantren seperti Koperasi Pondok Pesantren Sunan Gresik, Sidogiri, dan Nurul Jadid yang telah sukses dalam mengelola bisnis besar seperti pabrik dan retail, untuk menjadi kakak asuh bagi Koperasi Desa Merah Putih. Koperasi pesantren bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk memperkuat ekosistem koperasi di desa,” kata Ferry dalam keterangannya dikutip Sabtu, 24 Januari 2026.
Ferry menjelaskan, Koperasi Desa Merah Putih merupakan salah satu program prioritas pengembangan ekonomi rakyat. Fokusnya meliputi distribusi kebutuhan pokok, layanan apotek dan klinik desa, serta pengelolaan lembaga keuangan mikro. Dengan bimbingan dari koperasi pesantren, koperasi desa diharapkan mampu berkembang lebih pesat dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Selain pendampingan, pembangunan fisik Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi perhatian utama. Menurut Ferry, program ini mencakup pembangunan gudang modern untuk menyimpan kebutuhan pokok dan produk lokal, serta fasilitas apotek dan klinik yang mempermudah akses layanan kesehatan bagi masyarakat desa.
“Pembangunan fasilitas-fasilitas fisik seperti gudang, apotek, dan klinik desa ini sangat penting dalam menciptakan ketahanan ekonomi dan sosial di desa. Selain itu, koperasi desa juga akan dilengkapi dengan lembaga keuangan mikro yang bisa memberikan akses pembiayaan yang lebih mudah bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha kecil mereka,” ujarnya.
Ferry menjelaskan, Koperasi Desa Merah Putih juga akan dilengkapi armada kendaraan logistik untuk memperlancar distribusi barang dari desa ke luar dan sebaliknya, sehingga rantai distribusi yang panjang dan mahal bisa dipersingkat.
“Kami ingin koperasi desa ini menjadi instrumen yang paling bawah dalam distribusi barang dan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat, dengan harga yang lebih murah dan terjangkau,” jelas Ferry.
Sebagai Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ferry menekankan, ekonomi syariah harus menyentuh sektor riil, tidak hanya fokus pada keuangan, agar dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat.
“Kami mendorong koperasi-koperasi syariah untuk memperkuat sektor riil dan bergerak lebih aktif dalam mengembangkan ekonomi di masyarakat. Ekonomi syariah harus dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga optimis terhadap prospek ekonomi syariah Indonesia. Ia menyoroti posisi Indonesia yang berada di peringkat ketiga Global Islamic Economy Indicator dan menilai negara dengan mayoritas penduduk Muslim ini memiliki peluang besar menjadi pemimpin industri halal global.
“Dengan mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), kita bisa membawa ekonomi syariah ke tingkat yang lebih tinggi, menciptakan ekosistem ekonomi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tutup Ferry.








