Rekrutmen Pendamping Desa Belum Dibuka, Mendes PDT Imbau Masyarakat Waspadai Hoaks

Desanesia – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menegaskan, hingga saat ini belum membuka rekrutmen pendamping desa. Karenanya, masyarakat diimbau waspada atas maraknya hoaks yang kerap dimanfaatkan sebagai modus penipuan.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto menyampaikan, kementeriannya belum memulai proses penerimaan tenaga pendamping profesional desa dalam bentuk apa pun.
“Jadi, kami tegaskan di forum terhormat ini belum ada rekrutmen terhadap pendamping desa,” tegas Yandri, Selasa, 3 Februari 2026.
Yandri menjelaskan, belakangan beredar informasi palsu terkait rekrutmen pendamping desa yang sengaja disebarkan untuk menjerat korban melalui penawaran tidak masuk akal, sehingga klarifikasi resmi tersebut diharapkan dapat menekan potensi kerugian masyarakat.
“Penipuan melalui medsos (media sosial) banyak sekali sekarang, yang gaji Rp17 juta, Rp15 juta, akhirnya banyak yang tertipu,” jelasnya.
Ia menerangkan, saat ini Kemendes PDT tengah memprioritaskan evaluasi terhadap kinerja pendamping desa yang telah aktif bertugas. Dari total sekitar 34.000 pendamping desa di seluruh Indonesia, kurang lebih 8.000 orang telah melalui proses penilaian.
“Nanti akan kita isi kalau ada biaya dari Kemenkeu (Kementerian Keuangan) kami ajukan. Yang merekrut itu bukan Kemendes, melainkan perguruan tinggi. Jadi, ini adil dan transparan, pakai CAT dan sebagainya,” ujar Yandri.
Yandri juga menyampaikan, evaluasi difokuskan pada pendamping desa yang menghadapi persoalan kinerja maupun administrasi, seperti merangkap pekerjaan lain, tidak pernah menjalankan tugas lapangan, mengundurkan diri, atau tidak melakukan pendaftaran ulang.
Yandri menambahkan, kebijakan tersebut mencerminkan komitmen Kemendes PDT dalam memastikan fungsi pendampingan desa berjalan optimal demi mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan.
“Ini penting, artinya Kemendes memberikan perlakuan khusus untuk pendamping desa,” pungkasnya.








