BGN Soroti Kerusakan Bahan Baku sebagai Pemicu Gangguan Kesehatan MBG

Desanesia– Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti kerusakan bahan baku makanan sebagai salah satu faktor yang diduga memicu gangguan kesehatan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Kepala BGN Sudaryono menyebut, kasus tersebut banyak berkaitan dengan lauk dan sayuran yang sudah tidak layak konsumsi, terutama makanan dengan sumber protein hewani. Pernyataan itu dikutip dari Garuda24jamnews.com, Jumat (18/9).
“Kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur,” kata Sudaryono dalam keterangan resminya.
Menurut Sudaryono, makanan yang paling banyak ditemukan dalam kasus gangguan kesehatan tersebut adalah lauk berbahan protein hewani, seperti ayam, telur, ikan, dan daging. Ia menegaskan, proses memasak yang telah mengikuti prosedur tidak akan menjamin keamanan makanan apabila bahan baku yang digunakan sudah dalam kondisi buruk.
“Mau masaknya benar, kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak, tetap aja orang akan keracunan,” ujarnya.
Selain menyoroti bahan baku, BGN juga melakukan pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Sekitar 1.276 SPPG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebelumnya dinyatakan telah ditutup atau dihentikan sementara.
Sudaryono mengatakan, dapur yang tidak memenuhi standar akan dikenai penghentian operasional. Apabila tidak melakukan perbaikan dan memenuhi ketentuan, dapur tersebut berpotensi ditutup secara permanen.
“Yang tidak sesuai sudah kita tutup, orang-orang kepala dapur, orang yang bekerja di dapur yang tidak kompeten sudah kita keluarkan, dan ini terus akan kita lakukan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah laporan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG di sejumlah daerah. Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 193 siswa dari SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.
Kasus serupa juga terjadi di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dengan 352 siswa dari sejumlah sekolah dasar di Kecamatan Batukliang mengalami keluhan seperti muntah-muntah dan pusing. Sementara di Sidoarjo, Jawa Timur, sebanyak 748 santri dan pelajar dari 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah pelaksanaan program MBG. [nfa]









