Pusat Kebudayaan Tionghoa Jawa Barat Diresmikan, Dedi Mulyadi Dorong Akulturasi dengan Budaya Sunda

Desanesia– Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meresmikan Pusat Kebudayaan Tionghoa Jawa Barat di Jalan Nana Rohana Nomor 99, Kota Bandung, Selasa (25/8).
Kehadiran pusat kebudayaan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan, melestarikan, sekaligus mempertemukan budaya Tionghoa dengan kebudayaan lokal Jawa Barat.
Pusat kebudayaan yang dikembangkan Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) Buddha Tzu Chi Jawa Barat di bawah pimpinan Herman Wijaya itu turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Masyarakat Sunda (MASDA) Jawa Barat Abah Anton Charliyan, Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Enggartiasto Lukita, serta Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi mengatakan kebudayaan Tionghoa telah menjadi bagian dari dinamika kebudayaan di Jawa Barat.
Menurutnya, interaksi antara budaya Tionghoa dan Sunda dapat melahirkan kekayaan budaya baru sekaligus memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
“Kita sebagai masyarakat Sunda Jawa Barat harus menyadari bahwa budaya Tionghoa saat ini sudah menjadi bagian dari dinamika budaya di Jawa Barat. Kehadiran pusat budaya Tionghoa ini diharapkan mampu memperkaya budaya Sunda melalui kolaborasi dan akulturasi,” ujar Dedi dikutip dari faktapers.id.
Ia berharap keberadaan pusat kebudayaan tersebut tidak hanya menjadi tempat pelestarian budaya, tetapi juga ruang pertemuan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Senada, Ketua MASDA Jawa Barat Abah Anton Charliyan menilai pendekatan kebudayaan dapat menjadi salah satu cara memperkuat persatuan masyarakat tanpa membedakan ras, etnis, maupun agama.
“Melalui pendekatan budaya yang tidak mengenal ras, etnis maupun agama, masyarakat Tionghoa dan Sunda diharapkan dapat semakin bersatu dan guyub. Di negara kita ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Melalui budaya, kita dapat memperkuat persatuan sebagai bangsa Indonesia,” kata Abah Anton.
Setelah prosesi peresmian, para tamu undangan mengikuti kunjungan ke museum yang menjadi bagian dari Pusat Kebudayaan Tionghoa Jawa Barat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama serta pagelaran seni dan budaya Tionghoa.
Kehadiran pusat kebudayaan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang edukasi, interaksi, dan kolaborasi lintas budaya, sekaligus memperkuat semangat keberagaman dan persatuan masyarakat Jawa Barat. [nfa]









