Nasional

RAJA Brawijaya 2026, UB Libatkan Mahasiswa Disabilitas untuk Wujudkan Kampus Inklusif

saat kegiatan RAJA Brawijaya 2026/Prasetya UB

Desanesia – Universitas Brawijaya (UB) menggelar Jelajah Almamater Brawijaya (RAJA Brawijaya) 2026  pada, (10-12/8). Kegiatan ini tidak hanya menjadi masa pengenalan bagi mahasiswa baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya UB membangun lingkungan kampus yang lebih inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 31 mahasiswa baru disabilitas dan 16 mahasiswa lama disabilitas  terlibat dalam kegiatan RAJA Brawijaya. Mahasiswa disabilitas lama juga ikut menjadi bagian dari kepanitiaan dan membantu mahasiswa baru selama kegiatan berlangsung.

Kepala Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (SLDPI) UB, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D., menjelaskan bahwa mahasiswa disabilitas tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga ikut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.

“Selain mahasiswa baru disabilitas, kami juga memiliki sekitar 16 mahasiswa lama yang ikut menjadi panitia RAJA Brawijaya. Teman Tuli dan teman daksa turut menjadi bagian dari kepanitiaan,” ujar Zubaidah dikutip dari prasetya.ub.ac.id, Kamis, (13/8).

Salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa disabilitas terlihat dalam layanan untuk mahasiswa Tuli. UB menyediakan juru bahasa isyarat (JBI) selama kegiatan berlangsung.

SLDPI menyiapkan  dua JBI yang ditampilkan melalui layar dan tiga JBI yang mendampingi mahasiswa secara langsung di klaster. Penayangan JBI melalui layar juga bertujuan agar informasi dapat diakses oleh seluruh peserta, termasuk mahasiswa Tuli yang mungkin belum terdata oleh SLDPI.

Menariknya, UB juga melibatkan mahasiswa Tuli untuk memantau kualitas dan ketepatan bahasa isyarat yang digunakan selama kegiatan.

“Seorang mahasiswa Tuli juga dilibatkan untuk memantau kualitas dan ketepatan bahasa isyarat yang disampaikan,” jelas Zubaidah.

Pendekatan ini membuat inklusi tidak hanya menjadi aturan atau layanan dari kampus, tetapi menjadi budaya yang dibangun bersama oleh seluruh warga universitas.

Zubaidah menegaskan bahwa hal utama yang perlu diberikan kepada mahasiswa disabilitas adalah kesempatan untuk berkembang dan menjadi bagian dari lingkungan kampus.

“Yang perlu kita berikan adalah kesempatan. Biarkan mereka menjadi bagian dari kita dan tumbuh bersama, sehingga kita benar-benar dapat membentuk masyarakat yang inklusif,” pungkasnya.

Melalui RAJA Brawijaya 2026, UB menunjukkan bahwa kampus inklusif bukan hanya tentang menyediakan fasilitas bagi mahasiswa disabilitas. Lebih dari itu, inklusi juga berarti memberikan ruang bagi mereka untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, membantu sesama, dan ikut membangun lingkungan kampus.

Penulis

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *