Investasi Instan: Antara Kemudahan Digital dan Risiko Tersembunyi

Desanesia – Bayangkan ini: Anda baru bangun tidur, membuka ponsel, scroll Instagram sambil masih berbaring. Tiba-tiba muncul video seorang mentor keuangan yang bilang, “Saham ini akan naik 300% minggu depan!” Dalam 10 menit, Anda sudah membuka aplikasi broker dan membeli saham tersebut. Keputusan investasi senilai jutaan rupiah, dibuat lebih cepat dari memilih menu sarapan.
Ini bukan cerita fiktif. Ini realitas banyak investor hari ini.
Dulu, berinvestasi adalah ritual yang serius. Anda membaca prospektus, menganalisis laporan keuangan, mungkin bertemu perencana keuangan. Prosesnya lambat, membosankan, tapi terukur. Sekarang? Cukup scroll Reddit, tonton YouTube Shorts, atau ikut grup WhatsApp “saham cuan”, dan keputusan untuk berinvestasi pun segera Anda ambil. Dari GameStop yang melonjak gila-gilaan hingga demam kripto yang membuat orang rela jual motor, pasar saham tidak lagi bergerak karena angka-angka di neraca. Ia bergerak karena viralitas, emosi, dan desakan kolektif yang tidak terlihat.
Pertanyaannya sederhana tapi mengerikan: apakah Anda yang mengontrol keputusan investasi, atau justru algoritma media sosial yang mengarahkan jempol Anda?
Otak Kita Memang Suka Judi
Ada yang aneh dalam perilaku manusia ini. Kita sudah tidak tertarik lagi pada hal yang aman dan membosankan. Deposito yang memberikan imbal hasil 4% setahun? Tidur. Saham yang naik turun 50% dalam seminggu? Nah, ini baru menarik!
Cumulative Prospect Theory menjelaskan fenomena ini secara menarik. Penelitian Reichenbach dan Walther (2025) menemukan bahwa otak manusia cenderung melebih-lebihkan peluang kecil untuk mendapat untung besar, sambil meremehkan investasi yang stabil. Makanya, hampir setengah dari diskusi investasi di media sosial berfokus pada saham ekstrem yang profil risikonya seperti main lotre.
Ini juga kenapa grafik harga masa lalu begitu memikat. Lihat saham yang pernah naik 1.000% dalam sebulan, langsung terbersit pikiran: “Kenaikan ini bisa terulang lagi!” Padahal logikanya keliru, tapi otak kita tidak peduli. Yang penting sensasinya.
Lebih parah lagi, kita menilai setiap saham secara terpisah, tanpa melihat portofolio keseluruhan. Fenomena narrow framing ini membuat keputusan berisiko terasa masuk akal, padahal kalau dilihat dari sudut diversifikasi, pilihan itu bisa jadi bencana.
Kawanan Tak Kasat Mata
Sekarang tambahkan media sosial ke dalam analogi ini. Situasinya bahkan bisa menjadi lebih rumit.
Platform seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts dirancang untuk menarik dan menumbukan gerak ‘ekonomi’ perhatian. Informasi dikonsumsi dengan cepat, emosional, dan dangkal. Kita tidak lagi menganalisis, melainkan meniru apa yang dilakukan orang lain. Teori pembelajaran sosial membuktikan fenomena ini: manusia cenderung meniru perilaku yang tampak berhasil. Postingan viral dengan ribuan likes? Itu sinyal kuat bahwa “ini pasti bagus.”
Yang mengejutkan, meski kita merasa berpikir mandiri, ternyata tidak. Penelitian Singh dkk (2025) menggunakan machine learning untuk menganalisis diskusi investasi daring, dan hasilnya mencengangkan: 56% dari diskusi tersebut menunjukkan “konvergensi laten”, alias tanpa sadar kita menyesuaikan opini dengan massa. Ini yang disebut hidden herding, kawanan tersembunyi. Kita pikir kita independen, padahal sedang mengikuti arus tanpa menyadarinya.
Guru Palsu, Murid Setia
Ciri paling menonjol dari fenomena ini adalah munculnya influencer finansial. Mereka bukan perencana keuangan bersertifikat. Mereka bukan analis fundamental. Tapi mereka punya followers jutaan, konten yang menarik, dan cara bicara yang meyakinkan.
Dan itu sudah cukup.
Riset Pandey dan Guillemette (2025) membuktikan bahwa media sosial sangat mempengaruhi keputusan investasi, terutama pada orang yang pengetahuan finansialnya terbatas. Investor berpengalaman lebih kebal, tapi pemula? Mereka rentan. Mereka mudah terpukau narasi “dari nol jadi milyarder dalam setahun” tanpa mengecek kebenarannya.
Sistem ini dioptimalkan untuk engagement, bukan akurasi. Konten yang bombastis menyebar lebih cepat daripada analisis yang membosankan. Hasilnya, pasar dikuasai emosi, bukan logika.
Dan emosi itu nyata dampaknya. Griffith dkk (2020) menemukan bahwa emosi yang diekstrak dari berita dan media sosial, seperti ketakutan, optimisme, dan stres, berpengaruh langsung pada imbal hasil saham dan volatilitas pasar. Pasar tidak hanya bereaksi pada informasi, tapi pada bagaimana informasi itu dirasakan.
Kasus Kodak tahun 2020 jadi bukti ekstrem. Ketika perusahaan mengumumkan akan produksi bahan farmasi, euforia di media sosial membuat harga sahamnya melonjak lebih dari 1.000% dalam dua hari (Cioroianu et al., 2026). Padahal fundamental perusahaan tidak berubah drastis. Ini bukan lagi pasar rasional. Ini pasar emosional.
Bird dkk (2025) menemukan pola menarik: ketakutan menciptakan volatilitas yang berkepanjangan dan tekanan turun, sementara optimisme menggelembungkan valuasi. Artinya, pasar kini lebih dibentuk oleh dinamika emosi kolektif, bukan evaluasi rasional.
Jadi, Siapa yang Pegang Kendali?
Inilah realitas yang menakutkan: platform media sosial bukan ruang netral. Mereka dirancang untuk memaksimalkan engagement. Algoritma memprioritaskan konten yang emosional, ekstrem, atau kontroversial, karena itulah yang membuat orang betah scroll.
Hasilnya, tercipta loop perilaku: perhatian memicu minat, minat memicu transaksi, transaksi memperkuat perhatian. Dan siklus ini terus berputar.
Jadi saat Anda merasa tiba-tiba ingin beli saham setelah scroll lima menit, berhentilah sejenak. Tanyakan: apakah ini keputusan matang saya, atau saya sedang dikendalikan sistem yang dirancang untuk membentuk apa yang saya lihat dan rasakan?
Karena di era investasi digital ini, risiko terbesar bukan volatilitas pasar. Risiko terbesar adalah betapa tidak terlihatnya pengaruh yang membentuk keputusan kita. [nfa]
Oleh: Shinta Aziez dan Puti Salma
*Universitas Pamulang







